Musik memang sudah menjadi bagian hidup dari semua orang.
Semua orang yang beragama maupun tidak pasti menyukai musik. Semua orang yang
berasal dari kota maupun desa juga pasti menyukai yang namanya musik. Orang
kuta biasanya memanfaatkan musik hanya sekedar hiburan. Berbeda dengan orang
desa atau daerah, biasanya mereka gunakan sebagai pengiring tarian, pengiring
suatu drama, dan lain-lain. Biasanya orang desa lebih mencintai lagu asalnya
atau asli daerahnya masing-masing.
Seperti halnya di Banyuwangi, mereka menggunakan musik
sebagai pengiring gandrung Banyuwangi. Gandrung ini bermula sekitar thun
1800-an dan para penarinya belum menggunakan kaus kaki. Sesudah tahun 1930-an barulah para pemain gandrung memakai
kaus kaki putih di setiap pertunjukannya. Gandrung sendiri merupakan seni
pertujukan yang disajikan ddengan iringan musik khas yang berpadukan musik Jawa
dan Bali.
Alat musik yang digunakannya yang terdiri dari gong atau
kempul, sebuah kluncing atau triangle, satu
atau dua buah biola, dengan dua buah gendang serta sepasang kethuk. salah satu music pengiring gandrung yaitu Saron atau ricik
merupakan salah satu instrument gamelan yang merupakan salah satu keluarga
balungan.
Selain itu, pertunjukkan gandrung tidaklah lengkap jika tak
diiringi panjak atau biasa disebut pengudang atau pemberi semangat yang
berfungsi sebagai pemberi semangat dan memberi kesan hebat dalam setiap
pertunjukan gandrung tersebut. Peranan
panjak bisa diambil alihkan oleh pemain kluncing.
Sumber: Sistem Komunikasi Indonesia
Dr. Musclimin Machmud, M.si
Sumber: Sistem Komunikasi Indonesia
Dr. Musclimin Machmud, M.si