Kamis, 27 April 2017

Musik dan Gandrung BIP

Musik memang sudah menjadi bagian hidup dari semua orang. Semua orang yang beragama maupun tidak pasti menyukai musik. Semua orang yang berasal dari kota maupun desa juga pasti menyukai yang namanya musik. Orang kuta biasanya memanfaatkan musik hanya sekedar hiburan. Berbeda dengan orang desa atau daerah, biasanya mereka gunakan sebagai pengiring tarian, pengiring suatu drama, dan lain-lain. Biasanya orang desa lebih mencintai lagu asalnya atau asli daerahnya masing-masing.

Seperti halnya di Banyuwangi, mereka menggunakan musik sebagai pengiring gandrung Banyuwangi. Gandrung ini bermula sekitar thun 1800-an dan para penarinya belum menggunakan kaus kaki. Sesudah tahun  1930-an barulah para pemain gandrung memakai kaus kaki putih di setiap pertunjukannya. Gandrung sendiri merupakan seni pertujukan yang disajikan ddengan iringan musik khas yang berpadukan musik Jawa dan Bali.

Alat musik yang digunakannya yang terdiri dari gong atau kempul, sebuah kluncing atau triangle, satu atau dua buah biola, dengan dua buah gendang serta sepasang kethuk. salah satu music pengiring gandrung yaitu Saron atau ricik merupakan salah satu instrument gamelan yang merupakan salah satu keluarga balungan.


Selain itu, pertunjukkan gandrung tidaklah lengkap jika tak diiringi panjak atau biasa disebut pengudang atau pemberi semangat yang berfungsi sebagai pemberi semangat dan memberi kesan hebat dalam setiap pertunjukan gandrung tersebut. Peranan panjak bisa diambil alihkan oleh pemain kluncing.

Sumber: Sistem Komunikasi Indonesia
              Dr. Musclimin Machmud, M.si

Tidak ada komentar:

Posting Komentar